Profil

 Tahta Untuk Rakyat Sabda Pandita Ratu
Sebuah gerbong sengaja terpisah, memberi kesan seolah-olah adalah gerbong paling belakang yang tak penting dari rangkaian gerbong yang lain. Padahal justru di gerbong itulah Presiden dan keluarga, Wakil Presiden dan keluarga, dan pemimpin-pemimpin lain dari Republik pada malam itu bersembunyi. Mereka masuk gerbong tersebut dari halaman belakang kediaman Presiden, dan semuanya tak ada yang membawa barang apa pun. Dalam gelap tak berbintang pada 4 Januari 1946 itu berpindahlan Republik Indonesia dari pusat pemerintahannya ke daerah pedalaman di Yogyakarta. Dan pada akhir perjalanan ini di stasiun Tugu, pimpinan Republik ini disambut hangat oleh Sultan Hamengku Buwono IX.
Begitulah sepenggal permulaan kisah kepindahan ibu kota Republik yang termuat dalam buku Tahta Untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX (hlm 66). Kisah tersebut masih belum jauh dari peristiwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta. Yogyakarta pun belum lama masuk dalam lingkungan Republik Indonesia. Pada awalnya, 18 Agustus 1945, tanpa ragu-ragu sedikit pun, Hamengku Buwono IX langsung mengetok kawat kepada plokamator Sukarno-Hatta dan kepada dr. KRT Radjiman Wediodiningrat, ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan, dan mengucapkan selamat atas terbentuknya negara Republik Indonesia.
Dua hari kemudian, 20 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Ketua Badan Kebaktian Rakyat (Hokokai) Yogyakarta mengirim telegram kepada Presiden dan Wakil Presiden RI yang berisi “sanggup berdiri di belakang pimpinan” mereka. Hal ini juga dilakukan oleh Paku Alam.
Senggang beberapa minggu, di Yogyakarta dibentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Yogyakarta atas anjuran pemerintah pusat. Kemudian, pada 5 September 1945, Sultan Hamengku Buwono IX mengeluarkan amanat atas persetujuan komite. Amanat tersebut terdiri atas tiga pokok yang ringkasannya sebagai berikut:
  • Ngayogyakarta Hadiningrat berbentuk kerajaan yang merupakan Daerah Istimewa, bagian dari RI.
  • Segala Kekuasaan dalam negeri dan urusan pemerintah berada di tangan Hamengkubuwono IX.
  • Hubungan antara Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah negara Republik Indonesia bersifat langsung dan Sultan Hemengku Buwono IX bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI.
Surat pernyataan tersebut pun disambut postif oleh pemerintah pusat, sehingga pada 6 September 1945, dua utusan dari pemerintah pusat datang ke Yogyakarta untuk menyampaikan piagam penetapan mengenai kedudukan Yogyakarta dalam lingkungan RI yang ditandatangi oleh Presiden Sukarno. Kedua utusan tersebut adalah Menteri Negara Mr. Sartono dan Mr. A.A. Maramis.
Piagam penetapan dari pemerintah pusat sesungguhnya adalah tanda kepercayaan Republik Indonesia kepada Hamengku Buwono IX. Sedangkan surat pernyataan atau amanat yang disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan “Sabda Pandita Ratu”, sebuah ikrar untuk selalu mendukung dan menyelamatkan Republik Indonesia.
Memegang Teguh “Sabda Pandita Ratu”
Kisah di awal kemerdekaan RI di depan melukiskan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyambut secara tegas dan positif lahirnya Republik Indonesia, meskipun sebelumnya tak pernah berhubungan dengan Sukarno-Hatta dan kawan-kawan. Ketegasan tersebut semakin tergambar jelas dalam sebuah pidatonya yang disiarkan oleh radio pada awal kemerdekaan, yang berbunyi antara lain:
Proklamasi kemerdekaan ini tidak akan hanya diucapkan dengan kata-kata saja, melainkan akan diwujudkan dengan perbuatan. Perbuatan-perbuatan untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya ingin dan mau, akan tetapi juga dapat dan tahan memiliki kemerdekaan. Nasib Nusa dan Bangsa adalah di tangan kita, tergantung kepada kita sendiri. Maka tiada kecualinya kita harus bersedia dan sanggup mengorbankan kepentingan masing-masing untuk kepentingan kita bersama adalah menjaga, memelihara dan membela kemerdekaan nusa dan bangsa ….
Sekali lagi, itulah “Sabda Pandita Ratu” yang selalu dipegang teguh oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Beliau selalu menempatkan kepentingan Republik Indonesia. Dalam kondisi genting di ibu kota Jakarta, para pemimpin pusat ditampung di Yogyakarta. Semua pegawai dan keluarga pemimpin bangsa yang setia pada perjuangan Republik digaji dengan uang perak gulden Belanda yang diambil dari peti harta Keraton. Menteri Sosial Kusnan dan sekretaris Sultan mendapatkan tugas membagikan gaji tersebut selama kurang lebih empat bulan pada waktu masa pendudukan Belanda atas Yogyakarta hampir berakhir. Bantuan tersebut bertujuan membantu meringankan penderitaan rakyat dan mencegah agar orang tidak menyeberang ke pihak Belanda.
Tak hanya itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga membantu keperluan para gerilyawan untuk melawan Belanda dan sebagian unit PMI yang konon jumlahnya tak pernah dihitung secara tepat. Menurut perkiraan Bung Hatta, jumlah sumbangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada waktu itu tak kurang dari lima juta gulden. Dalam sebuah kesempatan, kabarnya Bung Hatta atas nama RI pernah menawarkan untuk menghitung dan membayar uang tersebut. Akan tetapi, Hamengku Buwono IX tidak pernah menjawab tawaran tersebut, dan kenyataannya tak pernah diganti hingga sekarang.
Keteguhan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam memegang “Sabda Pandita Ratu” tak bisa diragukan lagi. Semua yang telah diikrarkan untuk memperjuangkan Republik Indonesia pun dilaksanakan tanpa pamrih. Dalam buku Tahta Untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, Mohamad Roem bahkan membuat judul yang sangat menantang (hlm 143), “Apa yang Akan Terjadi dengan Republik Jika Tidak Ada Hamengku Buwono IX?” Untuk mendapatkan penjelasan mengenai pertanyaan tersebut, kita mesti membaca buku terbitan Gramedia yang kini telah terbit edisi revisinya, dan mendapat tambahan bab, “Dari Rumah Sakit George Woshington sampai Astana Saptarengga”.
Dalam bab tambahan di akhir buku ini diceeritakan bahwa kepergian Ngarsa Dalem menjadi kesedihan semua orang. Perjalanan jenazah almarhum dari Keraton menuju Astana Saptarenggana di Imogiri dengan kereta Kyahi Rata Pralaya sering terhenti oleh massa yang membudak di sepanjang jalan. Di antara jejalan massa, sesekali terdengar isak tangis sambil berkata dengan sesenggukan, “Ingkang Sinuhun” atau “Ngarso Dalem”. Di sepanjang jalan menuju Imogiri yang berjarak 17 kilometer itu hampir tak ada lagi tempat kosong yang tidak diisi orang. Berlapis-lapis. Berjejal-jejal. Sangat padat. Perkiraan, sekitar ratusan ribu, bahkan mungkin malah di atas satu juta orang. Begitulah kepergian seorang Raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya.
Jangan Bicara Yogyakarta, Sebelum Baca Buku Tahta Untuk Rakyat. http://newyorkyakarta.net/tahta-untuk-rakyat-sabda-pandita-ratu


Abdus Salam  Fisikawan Muslim Pertama  Peraih Nobel
Penciptaan fisika merupakan warisan bersama
seluruh umat manusia. Timur dan Barat, Utara dan Selatan,
semua mempunyai saham yang sama di dalamnya.”

Kata-kata ini dinyatakan Abdus Salam, seorang peraih nobel fisika di depan peserta Simposium Universitas PBB, Kuwait, 1981. Ia menyampaikan hal ini untuk mengingatkan penduduk negara dunia ketiga yang merasa kalah bersaing di dunia ilmu pengetahuan karena kekurangan kesempatan dan sumberdaya.

Fisikawan besar ini memang dikenal sangat peduli pada upaya memajukan sains terutama di negara-negara berkembang. Kepeduliannya itu sangat mungkin dilatarbelakangi pengalaman pahitnya menggeluti dunia sains di negerinya sendiri.

Abdus Salam dilahirkan di Jhang, Pakistan, tanggal 29 Januari 1926. Meskipun orangtuanya bukanlah ilmuwan hebat, namun keluarganya memiliki tradisi pendidikan yang cukup kuat. Ayahnya adalah pegawai departemen pendidikan di daerah pertanian miskin. Pada usia 14 tahun, Salam sudah memperlihatkan bakat istimewanya di bidang sains.

Ia memecahkan rekor nilai tertinggi untuk ujian matrikulasi di Universitas Punjab. Beasiswa demi beasiswapun diraihnya. Setelah kuliah di Universitas Punjab, Salam meneruskan studinya ke St. John's College,Inggris dan meraih gelar BA sekaligus untuk matematika dan fisika pada 1949.

Hanya setahun berselang, Salam memenangkan Smith’s Prize di University ofCambrigde untuk kontribusi pra-doktornya di bidang fisika yang dinilai bermutu tinggi. Pada usia 26 tahun, ia menerima gelar PhD untuk fisika teori dari universitas yang sama. Tesisnya yang dipublikasikan tahun 1951 tentang elektrodinamika kuantum telah membuatnya terkenal dan memiliki reputasi internasional.

Meskipun telah mendapat tawaran mengajar dan riset dari almamaternya, Salam memilih pulang ke tanah airnya. Pemerintah Pakistan lalu mengangkat pemuda dari keluarga menengah ke bawah ini sebagai Profesor di Government College, Lahore. Ia juga diangkat sebagai Kepala Departemen Matematika Universitas Punjab.

Namun malangnya di negeri tercintanya itu, Salam justru tidak menemukan tradisi riset dan dukungan yang memadai, tidak ada jurnal juga kesempatan menghadiri konferensi ilmiah. Bahkan ia disarankan pimpinannya untuk melupakan riset-risetnya. Setelah bertahan di Lahore selama tiga tahun, ia tersudut pada pilihan dilematis: fisika atau Pakistan. Akhirnya Salam memutuskan kembali ke Inggris.

Tahun 1957 ia menjadi Professor di Imperial College, suatu universitas yang sangat terkenal di Inggris. Di sana prestasinya tidak terbendung lagi. Ratusan publikasi hasil riset dan buah pemikirannya senantiasa mengundang penghargaan serta kepercayaan menduduki jabatan tinggi di berbagai institusi. Di PBB, Salam dipercaya sebagai sekretaris jenderal bidang sains untuk konferensi penggunaan damai energi atom, Jenewa (1955 dan 1958), serta pimpinan komisi penasehat bidang sains dan teknologi (1971-72). Untuk negerinya, penerima gelar Doktor Sains Honoris Causa dari puluhan lembaga ilmiah di seluruh dunia ini mengabdikan diri di bidang pendidikan, energi atom dan ruang angkasa. Dia juga ditunjuk menjadi penasehat presiden untuk bidang sains (1961-74).

Pada tahun 1979, nama Abdus Salam tercatat dalam sejarah perkembangan ilmu fisika dunia. Ia bersama Steven Weinberg dan Sheldon Glashow dianugerahi Nobel Fisika untuk kontribusinya dalam menyatukan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah. Teori yang dinamakan elektrolemah (electroweak) menjadi suatupijakan pengembangan teori penyatuan maha agung (grand unification theory) yang berusaha menyatukan kedua gaya ini dengan gaya inti (gaya kuat).

Sekarang teori yang dikembangkan Abdus Salam ini menjadi inti penting dalam pengembangan model standar (stardard model) fisika partikel. Kesahihan teori Abdus Salam ini sudah diuji pada Superprotosynchrotron di CERN Geneva yang telah memimpin pada penemuan partikel W dan Z.

Reputasinya yang kian melambung ternyata tidak membuat Salam lalai untuk tetap berjuang mencari jalan agar orang-orang seperti dirinya yang berasal dari dunia ketiga tidak kehilangan peluang besar menjadi ilmuwan peringkat puncak.

Bersama kolega-kolega Eropa dan Amerikanya, serta atas bantuan PBB khususnya Lembaga Energi Atom Internasional, pada tahun 1964, berdirilah ICPT (International Centerfor Theoritical Physics) di Trieste, Italia.

Pendirian lembaga yang kemudian secara reguler dikunjungi para ilmuwan dari 50-an negara berkembang ini menurut Herwing Schopper, presiden masyarakat Fisika Eropa, merupakan sumbangan sangat besar bagi komunitas fisikawan. Selama 30 tahun, ICTP telah dikunjungi oleh 60.000 ilmuwan dari 150 negara. Selain itu,juga mendirikan dan menjadi presiden The Third World Academy of Sciences dan presiden pertama The Third World Network of Scientific Organization.

Siapapun yang menyimak upayanya yang tak kenal lelah dalam riset fisika dan pengembangan tradisi ilmiah di negara berkembang rasanya setuju dengan apa yang pernah ditulis majalah sains internasional, New Scientist, edisi 26 Agustus 1976, “Dunia merugi karena Abdus Salam hanya dapat hidup sekali.” (Yohanes Surya).
Ir. Qoyum, Sang Pencerah

Judul diatas bukan isapan jempol. Ditahun 1990an, Perusahaan Listrik Negara (PLN) dilanda krisis, karena kemarau panjang. Sejumlah Waduk penting yang menggerakkan turbin PLN kering. Jika dalam satu minggu tak segera turun air dari langit, maka hampir dipastikan seluruh Jawa dan Bali terancam Mati Listrik.

Direktur PLN ketika itu, kebetulan cukup dekat mengenal Pak Qoyum, yang memang populer dikalangan aktivis Energi Nasional. Bahkan di sejumlah Negara Anggota OPEC, penghasil minyak dunia, putra Mln Abdul Wahid itu sering dijuluki Praktisi Energi yang religius. Pasalnya, setiap ada masalah disekitar urusan perminyakan dan Gas, yang tak mampu diatasi secara teknis, para kolega Pak Qoyum selalu minta agar dido’akan. Dan biasanya, setelah itu , sejumlah masalah menjadi beres.
Nah, berdasar pengalaman itu, Direktur PLN, dalam kesempatan kumpul-kumpul dengan sejumlah pejabat lainya, meminta agar Pak Qoyum berkenan mendo’akan, supaya kemarau segera berakhir, dan hujan memenuhi waduk-2 , untuk menggerakkan mesin PLN.
Dengan tenang Pak Qoyum menjawab, ya kalau minta do’a, buat lah surat secara resmi, karena saya kan harus secara resmi pula memohon do’a ke Imam saya. Maksutnya ke Huzur ke IV ra.- ketika itu.
Seperti biasa, singkat cerita, tak lama setelah surat permohonan dari Direktur PLN diterima, Pak Qoyum segera terbang ke London, untuk memohon do’a kepada Hazrat Mirza Taher Ahmad, Khalifatul Masih IV atba. Aktivitas mondar mandir ke London untuk mohon do’a di zaman Huzur ke IV ra, sudah nyaris tak terhitung bagi Pak Qoyum. Termasuk setiap saat ada gonjang-ganjing harga minyak OPEC yang mengancam perekonomian Indonesia, selalu Pak Qoyum kebagian tugas sowan Huzur IV ra untuk mohon do’a.
Kembali ke soal krisis PLN, setelah sowan Huzur IV ra, memohon doa, dan  tentu untuk banyak urusan yang lain pula, Pak Qoyum bergegas kembali ke tanah air. Menjelang  mendarat di Sukarno Hata, dari jendela pesawat Pak Qoyum melihat awan putih bergaris-garis dilangit Jakarta. Itu artinya, hujan benar-benar telah turun, dan selamatlah nasib Direktur PLN. Karena kalau tak turun hujan dan Jawa mati listrik, sang Direktur PLN bisa dipecat!
Nah, disamping menyelamatkan nasib Direktur PLN, Pak Qoyum juga membuat cerah banyak fihak , yang kehidupanya sangat tergantung pada hidup ”Cerahnya” listrik Jawa Bali. (Kisah ini dituturkan mantan Durut PGN, Ir.A.Qoyum, pada kesempatan daras subuh, saat I’tikaf di Masjid Nashr.-nks.-11/10/08 )


 
 H.Suhadi , Ternyata “Sang Pencipta Hymne UIN”
Setelah WR Supratman Mencipta Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, kini Terbukti – Ketua JAI Yogya 1990an, juga Pencipta Lagu Wajib Universitas Islam Negri (UIN) Se Indonesia.
Teka-teki siapa pencipta lagu Hymne UIN kini terjawab sudah. Adalah H Suhadi (73), seniman asal Yogyakarta, yang menciptakan lagu tersebut di tahun 1960-an.

Bagi masyarakat Yogya­karta, khususnya di kalangan seniman Muslim, nama Suhadi tampaknya sudah tak asing. Ia bukan saja dikenal sebagai komposer dan pencipta lagu-lagu bernafaskan Islam melainkan juga seorang pianis dan konduktor.
Sebagai pencipta lagu-lagu Islami, Suhadi sendiri telah banyak melahirkan karya ciptaannnya. Salah satunya adalah Hymne IAIN yang kemudian dipakai sebagai “lagu wajib” di seluruh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Indonesia. Bahkan, ketika beberapa IAIN berubah menjadi universitas (UIN), lagu tersebut masih tetap diperdengarkan (lihat Berita UIN No 83).

Hanya saja, di beberapa UIN, judul dan  syair sedikit mengalami perubahan. UIN Jakarta misalnya, judul hymne diubah menjadi Hymne UIN, sementara UIN Yogyakarta menjadi Hymne UIN Sunan Kalijaga. Di kedua UIN ini, berdasarkan hasil penelusuran Berita UIN, syair lagu juga sedikit mengalami perubahan. Kecuali di IAIN, seperti IAIN Walisongo Semarang dan IAIN Sunan Ampel Surabaya, semua syair masih tetap sesuai naskah aslinya.

Suhadi menuturkan, Hymne IAIN dikarang tahun 1964 atau pada awal-awal IAIN berdiri dari sebelumnya bernama Akademi Dinas Ilmu Agama atau ADIA. Ceritanya bermula dari sebuah sayembara cipta lagu hymne IAIN yang digelar Departemen Agama. Lagu itu diperuntukkan bagi IAIN, yang waktu itu baru berdiri di dua tempat, yakni Yogyakarta dan Jakarta dengan rektor pertama Prof Drs Soenardjo.
“Waktu itu saya ikut lomba dan kemudian berhasil memenangkannya,” jelas Suhadi, yang ditemui di rumahnya di kawasan Wirobrajan, DI Yogyakarta, pada 14 Juni 2008 lalu. “Hadiahnya berupa uang sebesar Rp 45.000 dan sebuah piagam ha...ha...ha...,” lanjutnya seraya tertawa.

Dalam sayembara itu, Suhadi tak hanya diminta mengarang bait-bait syair tapi  sekaligus mengaransemen menjadi sebuah lagu. Namun, agar sejalan dengan visi dan misi IAIN, panitia pun menetapkan beberapa kriteria yang harus termuat dalam semangat lagu hymne tersebut.

Coretan tangan naskah asli Hymne IAIN yang disertakan dalam sayembara itu hingga kini masih tersimpan utuh di rumah Suhadi. Bahkan, ketika Berita UIN meminta untuk menyanyikan bait-bait syair lagu karyanya tanpa membaca naskah, ia pun masih sanggup dan hafal.

Ikut menyaksikan
Kini 44 tahun sudah lagu Hymne IAIN dicipta. Namun, Suhadi sendiri mengaku hampir tak pernah tahu dengan keberadaan lagu ciptaannya itu. Padahal, di seluruh IAIN/UIN di Indonesia, lagu itu masih kerap diperdengarkan, khususnya oleh kelompok paduan suara mahasiswa atau PSM.

Di UIN Jakarta, PSM  selalu memperdengarkannya di setiap ada acara resmi seperti wisuda sarjana, dies natalis, pengukuhan guru besar atau program pengenalan studi dan almamater (Propesa). Hal yang sama, juga dilakukan di UIN Yogyakarta.
Yang menarik, di “kampus orange” ini, setiap ada acara resmi, lagu hymne tak hanya diperdengarkan PSM Gita Savana tapi juga kerap mengundang Suhadi untuk mendengarkan dan menyaksikan langsung. “Saya sempat beberapa kali diundang hadir. Rasanya terharu sekali ketika lagu (hymne) itu dinyanyikan,” kata Suhadi dengan pandangan mata yang berkaca-kaca.
Hymne UIN Sunan Kalijaga sendiri, menurut dia, beberapa bait syairnya kini telah mengalami perubahan, kecuali untuk nada lagu. “Ada beberapa perubahan misalnya pada bait ketiga dari Pembangun jiwa//serta penggali menjadi Integrasikan//interkoneksikan. Selain itu, juga ada penambahan kata “Amin” dan not baru di akhir lagu tersebut,” paparnya dengan nada tetap bersemangat meski usianya kini mulai beranjak senja.

Meski ada perubahan, sebagai pencipta, Suhadi toh masih tetap bangga. Pasalnya tak lain karena lagu yang dinyanyikan dengan andante espressivo itu digubah oleh dirinya sendiri. “Perubahan itu dilakukan tahun 2004 atas permintaan pimpinan UIN Yogyakarta,” jelasnya.  

Menurut Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Yogyakarta Dr Maragustam, syair Hymne UIN Sunan Kalijaga memang sedikit mengalami perubahan sesuai dinamika dan perkembangan kampus UIN Yogyakarta. Namun, pihaknya sendiri tak mengetahui secara persis bagaimana sejarah perubahan lagu itu.
“Saya sebetulnya tidak mengetahui banyak tentang lagu hymne itu,” ujarnya singkat saat dihubungi di kampus UIN Yogyakarta.  (sumber : www.uinjkt.ac.id/  penulis, Nanang Syaikhu, Kamis, 03 Juli 2008 12:06)


Aly Abubakar Basalamah
Beliau dikenal sebagai seorang tokoh intelektual Ahmadi Yogyakarta berdarah Arab, bai’at menjadi seorang pengikut Jema’at Ahmadiyah pada tahun 1970.
Awal mula beliau mengenal Ahmadiyah ketika masih bersetatus sebagai mahasisawa IAIN Sunan Kalijaga, kala itu, lewat sebuah pameran yang diselenggarakan di UGM, dimana Jema’at Ahmadiyah Yogyakarta turut serta mengadakan pameran buku. Lalu, pemuda Aly Abubakar Basalamah pun, yang diajak oleh seorang kawan mahasiswanya, mengunjungi stand pameran buku Jema’at Ahmadiyah.

Dari situlah beliau mulai tertarik untuk mempelajari Ahmadiyah, sehingga kemudian membawa beliau berkenalan dengan seorang Muballigh Ahmadiyah yang juga berdarah Arab, Mln. Saleh Asabbibi Nahdi. Setelah banyak mempelajari dan berdialog dengan Mln. Saleh Asabibi Nahdi, lalu kemudian pada tahun 1970 beliau bai’at masuk Jema’at Ahmadiyah.

Sehari-harinya beliau aktif sebagai seorang pendidik di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN) dan terakhir beliau menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Adab pada Perguruan Tinggi tersebut. Sebagai seorang tokoh intelektual Ahmadi, beliau banyak berkesempatan mendapat undangan sebagai narasumber mewakili Jema’at Ahmadiyah di berbagai acara Seminar.

Beliau wafat pada tahun 1997 di Bandung, pada hari Jum’at, yang ketika itu untuk yang terakhir kalinya beliau mendapat undangan sebagai narasumber mewakili Jema’at Ahmadiyah pada sebuah acara Seminar yang diselenggarakan di IAIN Sunan Gunung Jati Bandung. Beliau wafat secara mengejutkan, ketika beliau tengah menjawab salah satu pertanyaan pada acara Seminar tersebut.
Sebuah peristiwa yang tak akan terlupakan dalam sejarah perjuangan tabligh Jema’;at Ahmadiyah Indonesia. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat yang tenteram di sisi-NYA. Aamiin. (Sumber : Mira Tsurayya Baslamah. Penulis : Nanang, Jum’at 5 Januari 2012)

Beliau wafat pada tahun 1997 di Bandung, pada hari Jum’at, yang ketika itu untuk yang terakhir kalinya beliau mendapat undangan sebagai narasumber mewakili Jema’at Ahmadiyah pada sebuah acara Seminar yang diselenggarakan di IAIN Sunan Gunung Jati Bandung. Beliau wafat secara mengejutkan, ketika beliau tengah menjawab salah satu pertanyaan pada acara Seminar tersebut.
Sebuah peristiwa yang tak akan terlupakan dalam sejarah perjuangan tabligh Jema’;at Ahmadiyah Indonesia. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat yag tenteram di sisi-NYA. Aamiin. (Sumber : Mira Tsurayya Basalamah. Penulis : Nanang, Jum’at 5 Januari 2012)



Farouk Afero Meninggal Dunia

Jakarta, 14 April 2003 08:06
Bintang film yang terkenal dengan peran antagonis, Farouk Afero, Minggu malam, meninggal dunia di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, dalam usia 65 tahun.

Perawat di rumahsakit tersebut tak bersedia menyebut penyakit yang diderita aktor itu. Namun salah seorang kerabatnya menduga Farouk selama ini mengidap kanker paru.

Aktor kelahiran Pakistan 4 Juni 1938 dengan nama asli Farouk Achmad tersebut sudah beberapa kali dirawat di RS Pondok Indah. Sampai Minggu tengah malam belum dapat dipastikan di mana almarhum akan dikebumikan.

Dari pernikahannya dengan Oktorina Suryaningsih, Farouk dikaruniai empat anak, masing-masing Fachiro Ahmad Afero (32), Ferdiansyah Ahmad Afero (31), Feroz Ahmad Afero (28) dan Farid Ahmad Afero (26).

Selama menggeluti dunia seni peran, Farouk, yang pernah meraih penghargaan Aktor Pembantu Terbaik FFI 1976 lewat film Laila Majenun (1975) arahan sutradara Syuman Djaya, dikenal sebagai spesialis pemeran antagonis (berperan sebagai orang jahat atau dibenci).

Film pertama yang dibintangi Farouk adalah Ekspedisi Terakhir (1964). Namun namanya baru melambung sejak membintangi film Bernapas Dalam Lumpur (1970) arahan sutradara Turino Djunaedi dengan peran sebagai mucikari.

Kiprah terakhir Farouk di dunia seni peran adalah turut bermain dalam sinetron serial Melody Cinta produksi Persari Films. Dalam sinetron itu ia berperan sebagai ayah Airlangga, pilot ganteng yang diperankan Denny Malik.
[http://arsip.gatra.com/2003-04-14/artikel.php?id=27186
Tma, Ant]