20120113

MEMPERINGATI 2 TAHUN WAFATNYA GUS DUR

 
Meningkatnya kekerasan dan intoleransi yang mengatas-namakan agama menjadi tantangan serius keberagaman, momentum 2 tahun wafatnya Gus Dur merupakan ruang untuk membangun komitmen dan konsolidasi masyarakat sipil untuk perdamaian Indonesia.


DI WONOSOBO :
KOMUNITAS LINTAS IMAN GELAR REFLEKSI 2 TAHUN WAFATNYA GUS DUR DAN DO’A BERSAMA PADA MALAM PERGANTIAN TAHUN
Laporan : Sajid Ahmad Sutikno
 
Wonosobo, Sabtu (31/12/2011) ditengah hujan yang menyelimuti malam pergatian tahun 2011 – 2012, Komunitas Lintas Iman Wonosobo menggelar refleksi dua tahun wafatnya Gus Dur dan do’a bersama di kantor sekretariat FKMD. Acara yang dimulai  pukul 20.30 WIB tersebut diikuti oleh para tokoh agama se-Kabupaten wonosobo, PMII, seniman, komunitas Orang Indonesia (OI), dan Jema’at Ahmadiyah.

Mengawali pertemuan tersebut, koordinator acara, ketua FUB Haqqi El-Anshary menyampaikan cacatan rentang waktu  tahun 2011. Banyak kejadian pelanggaran hokum dan HAM mewarnai negri ini, seperti insiden GKI Yasmin, kemudian baru-baru ini di bulan Desember telah terjadi tragedy kemanusiaan, tindak kekerasan terhadap teman-teman Syi’ah di Madura. Kemudian yang paling terdepan  dan paling sering mendapat tindak intimidasi dan kekerasan adalah saudara kita dari Jema’at Ahmadiyah.
Haqqi Al-Anshary juga menambahan, bahwa acara itu diadakan untuk mengenang perjuangan almarhum Gus Dur dalam menyebarkan nilai-nilai pluralism di Indonesia semasa hidupnya. Gus Dur merupakan Bapak Bangsa dan Bapak Pluralisme di Indonesia yang harus dikenang agar semangat juangnya dapat diikuti oleh generasi penerus.
Kyai Ahmad Fadlun, Ketua FKMD, mengungkapkan bahwa realitas keberagaman di Indonesia masih jauh dari ajaran pluralism yang yang dikembangkan Gus Dur. Kekerasan berbau agama masih mewarnai kehidupan bangsa. Karena itu, beliau mengatakan, gerakan pluralism harus digalakkan, yakni mengajak semua elemen masyarakat untuk duduk bersama membangun kesepahaman tentang kehidupan bangsa yang lebih baik. “Refleksi dua tahun wafatnya Gus Dur dan malam pergantian tahun ini semoga menjadi awal yang baik untuk membangun kehidupan bangsa”.
Kyai Fadlum juga mengatakan bahwa FKMD adalah wadah semua kalangan Islam maupun non-Islam, karena ia merupakan lembaga agama dan keagamaan. Dalam menggodok kurikulum madrasah diniyah, TPA, dll ksmi sksn melibatkan semua elemen, termasuk Jema’at Ahmadiyah, dan hal ini sudah disetujuii Bapak Bupati. Soal Ahmadiyah, pernah ada SMS gelap kepada saya agar dalam pertemuan-pertemuan formal jangan sebut-sebut nama Ahmadiyah, karena Ahmadiyah kan sesat. Saya degan gregetan langsung telpon dan bertanya, siapa anda, rumah anda dimana, saya akan dating ke rumah anda sekarang juga. Tujuan saya mejelaskan agar tidak ribu-ribut jika tidak faham Ahmadiyah, kan sudah jelas bahwa Ahmadiyah itu Islam. Kita akan terus sosialisasikan hingga ke grass root pentingnnya hidup rukun, saling menghormati, dan tidak usah urusi perbedaan faham, tambahnya.
Penasehat Walubi Wonosobo, Lukito, juga mengemukakan pendapatnya, bahwa pihaknya menutuk segala benuk kekerasan dalam berkehidupan bangsa dan bernegara yang selama ini ada. Kekerasan hanya aan melahirkan maslah baru yang akan mengancam integritas bangsa. Karena itu, pluralism  sebagaimana yang diajarkan Gus Dur harus dikembangkan terutama dikalangan generasi muda.
Suster Tutut menambahkan, segala bentuk perbedaan harus dimaknai sebagai nikmat dan karunia Tuhan, sehingga tidak menimbulkan gejolak social. “Beda itu indah, tetapi membedakan itu jahat” tandasnya.
Perwakilan Jema’at Ahmadiyah pun dapat giliran menyampaikan catatan di tahun 2011. “Bagi JAI tahun 2011 merupakan tahun paling berat hadapi permaslahan hukum, tercatat 342 lebih kasus kekerasan dialami Ahmadiyah. Belum lagi bermunculan perda-perda pelarangan yang semakin mendiskriminasikan JAI. Lebih diperparah lagi dengan adanya tragedy Cikeusik berdarah dan memakan 3 korban warga Ahmadiyah. Jauh dari rasa keadilan, pelaku pembunuhan hanya dihukum 3-6 bulan, sedangkan korban JAI justru lebih berat. Belum lagi warga Ahmadiyah, yang sampai mala mini jelang pergantian tahun baru masih juga hidup di pengungsian Transito, tidak ada solusi terbaik dari Pemerintah, bahkan terkesan ada pembiaran. Tapi biarlah warga Ahmadiyah menjadi bukti sejarah dan saksi, begitu lemahnya huku dan perlindungan Negara terhadap warganya di tahun 2011, sehingga ada ratusan anak bangsa sampai hari ini menjadi pengungsi di negrinya sendiri hanya karea keyakinan yang dianutnya.
Untuk itu mari kita tauladani seoran Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme Indonesia, Semasa hidupya Gus Dur mengajarkan, demngan hadirnya beragam agama dan keyainan menunjukkan bahwa inilah Indonesia. Wajah asli Indonesia adalah keberagaman, ke bhinekaan, wajah yang membentuk pularisme yang mengedepankan nilai kebersamaan dan kedamaian.
Kami ingin mengulang pesan Bapak Bupati Wonosobo, bahwa “Kita jangan menghabiskan energy berkutik dalam ranah perbedaan paham saja, dan melupakan tujuan lainnya yang lebih besar dan bermanfa’at. Untuk itu, kata beliau, mari semua kalangan, para tokoh agama, tokoh ormas termasuk para tokoh Jema’at Ahmadiyah, kitab lupakan perbedaan, dan mari kita lebih majukan Wonosobo bersama-sama.” (Hadirin tepuk tangan). Selain itu mari kita selalu amalkan pesan “Love For All Hatred For None”, inilah selogan Ahmadiyah di seluruh dunia dalam menyampaikan Islam dan kedamaian dunia. Mari terus kita rawat kedamaian dan kerukunan di Indonesia kescil seperti Wonosobo ini. Semoga kerukunan dan keharmonisan di Wonosobo mampu menjadi sample bagi daerah lainnya di Indonesia, yang selalu menjunjung tinggi toleransi, keberagaman dan kebebasan beragama dan berkeyaikinan.
Pada sesi akhir acara, disampaikan, agar acara FUB yang sudah berjalan itu diadakan di banyak tempat, hingga menyentuh masyarakat desa se-Kabupaten Wonosobo sebagai sarana penyampai pesan kedamaian, agar tetap terpelihara hidup damai dan harmonis, tidak sampai ada gejolak. Hadirin semua sepakat akan diadakan bergilir tiap bulannya pada minggu kedua di banyak komunitas se-Wonosobo, termasuk komunitas Ahmadiyah. Acara pun diakhiri dengan do’a bersama, dengan tata-cara masing-masing perwakilan tokoh lintas agama, dimulai dari Suster Sisca (Perwakilan Katolik), Bapak Lukito (Perwakilan dari Walubi), kemudian dari agama Islam dipimpin dua tokoh agama secara bergantian; pertama dari Jema’at Ahmadiyah oleh Muballighnya, dan kedua adalah dari perwakilan Nahdhatul Ulama, Kyai Imdad, S. Ag. (wzindegi-ina/ns/13/01/12).
 
DI YOGYAKARTA :
JOGJA BERAGAM CLUB, SELENGGARAKAN SARESEHAN MEMPERINGATI 2 TAHUN WAFATNYA GUS DUR
Laporan : Abu Anis
H.Suhadi , Menyampaikan Refleksinya Mewakili Ahmadiyah
 “Tantangan Kerukunan Umat Beragama di 2012” menjadi tema utama yang diangkat pada sebuah Saresehan yang digelar Lembaga Studi Islam dan Politik dan Lingkar Muda yang tergabung dalam Jogja Beragam Club, Kamis 12 Januari 2012 di Angkringan Pendopo Dalem, Ngasem Yogyakarta, dengan pokok bahasan keberagaman, peran dan tanggung jawab negara.
 
Selain mengenang kembali gagasan-gagasan Gus Dur, sekaligus juga mempertemukan wacana-wacana keberagaman menurut negara, yang tertuang dalam RUU KUB. Kegiatan ini sebagai bentuk partisipasi warga bangsa yang peduli dan prihatin dengan situasi kehidupan yang belakangan rentan terhadap kekerasan, intoleransi dan eksklusifisme dalam hal kerukunan umat beragama.
Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama maupun aliran kepercayaan maupun keyakinan dan telah bersepakat membentuk sebuah negara yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemajemukan merupakan kekayaan yang harus dipelihara. Negara berkewajiban dan bertanggungjawab untuk melindungi dan menghormati setiap unsur-unsur pembentuk kemajemukan, termasuk di dalamnya  kebebasan beribadah, beragama dan berkeyakinan sebagai Hak Asasi Manusia yang fundamental.
Tetapi kenyataan menunjukkan hal lain, negara seringkali tidak konsisten memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak atas kebebasan beribadah, beragama dan berkeyakinan bagi warganya. Hal ini dapat dilihat dari eskalasi penutupan, penyegelan dan penyerangan terhadap rumah ibadah yang dilakukan oleh negara dan non-negara, yang disebut dengan kelompok vigilante (kelompok yang melakukan kekerasan dengan mengambil alih fungsi penegakan hukum).

K.H. Abdurahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur, semasa hidupnya telah menjadi tokoh perjuangan keberagaman di tingkat nasional maupun internasional. Gagasan-gagasannya tentang keberagaman telah menginspirasi banyak orang untuk terus mengupayakan kehidupan bersama yang lebih toleran, inklusif dan nir-kekerasan, terutama dalam hal kehidupan umat beragama di Indonesia. Saat ini gagasan-gagasan tersebut masih relevan untuk terus disosialisasikan dan dikembangkan di Indonesia untuk memperbaiki tatanan kehidupan yang lebih damai dan berkeadilan.

Sekitar 100 orang hadir dalam acara ini sebagai perwakilan dari berbagai Lembaga Agama, termasuk 5 orang wakil dari Jema’at Ahmadiyah Yogyakarta, lalu tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian dan keterlibatan terhadap upaya mewujudkan kehidupan masyarakat damai, terutama yang terkait dengan kerukunan beragama, Pemerintah, Pegiat perdamaian, HAM dan Pluralisme, Gerakan Mahasiswa, Non Government Organization, Media Cetak dan Elektronik. (msr/ns/13/01/12).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar